SELUBUNG MIMPI





Nalarku hampa, berayun menyesapi stelosi
1,2,3, seperti seekor kuda yang melaju terpecuti
Ragaku memutus tulang, terkarat pada setiap sendi
Sekonyong-konyong aku mengaggumi selubung mimpi
Disana aku mengecupmu di pipi



-ariisme-
Serang, 5/10/14

AKSARA DARA




Penaku merindu aksara pada tinta
Tatkala kata enggan menjelma citra
Larik dan bait terikat pada selaksa rasa
Rimanya tersurat kepada dara

-ariisme-
Serang, 5/10/14






PADA SUATU MIMPI



Suara itu kembali berbisik ditelingaku. Dan lagi-lagi, aku menolak logikaku untuk mengabaikannya. Kakiku bergerak berlawanan dengan apa yang diperintahkan oleh otak. Aku hanya tertuju kepadanya, Ia yang melayang-layang, memanggil sayup namun memenuhi ruang nalarku.

Hiruk pikuk manusia tidak menghentikan aku melangkah. Aku hanyut. Oohh betapa suara itu sangat lembut, terasa hangat bagaikan suara ibu menina bobokan bayinya yang mungil dan rapuh. 



Aku sangat menyukainya, dan begitu pun sebaliknya. Setidaknya itu yang aku rasakan.

“Jangan berhenti”,  bisiknya.

Aku terus berjalan, mengikuti kemana arah suara itu membawaku. Setiap bisikannya memberikan rasa hangat yang seketika saja mejalar keseluruh tubuh, meresap di setiap aliran darahku, hangat yang membuat aku sangat nyaman, yang rasanya aku akan sangat mati-matian mempertahankannya jika saja suatu saat ada seseorang ingin mencurinya dariku.

 “Jangan takut”, lirihnya.

Kali ini aku bisa merasakan Ia menyentuh tanganku dengan lembut, meninggalkaan jejak kupu-kupu. Aku bergetar, aku lena. Darahku mengalirkan debar-debar yang sama dengan yang kurasakan ketika pertama kali aku merasakan jatuh cinta, ketika pertama kalinya aku memeluk mahluk kecil mungil yang senyumnya semanis buah anggur, ketika aku menjadi seseorang yang dipuja, seperti ketika aku menjadi satu-satunya. 


Orgasmic dan tidak tertandingi.   

Kudaki bukit itu, kuseberangi sungai yang mengalir yang membelah daratannya. Pohon-pohon yang lebat mengantarkan aroma matahari bercampur pinus. Dan di sana, terbentang luas dunia yang tak pernah kulihat selama aku hidup. 

Pohon-pohon rindang, gemericik air terjun yang berpendar warna pelangi, manusia-manusia kecil mungil yang berterbangan dengan wajah bahagia, sayap yang transparan namun berwarna-warni, dan telinganya, memiliki bentuk yang aneh, bagian atasnya meruncing seperti  kelelawar.

Tiba-tiba saja mereka berhenti berterbangan, mereka menoleh kearahku, dan secepat kilat bersembunyi di balik pohon Mallow. Aku terkesiap, melemparkan pandangan ke kiri dan ke kanan mencari-cari sosok mereka, aku berharap masih ada salah satu dari mereka yang tidak merasa takut dengan kehadiranku.



Kuberanikan diri melangkah lebih jauh, kupanggil-panggil Si pemiliki bisikan yang telah membawa aku ke  negeri yang asing ini.

“Hey, bisikan, dimanakah aku berada”.

“Mengapa mereka bersayap seperti capung dan kupu-kupu?”, bisikku parau.

Tak ada satupun suara menjawab pertanyaanku.

“Hey,,,bisikkan, mengapa kau meninggalkan aku disini?".

Tidak ada jawaban.

Kurasakan perutku keroncongan, aku ingat aku belum makan sejak kemarin. Aku mencari-cari pohon yang buahnya bisa kumakan, aku melangkah ke arah dimana mahluk-mahluk kecil lucu itu bersembunyi. Ku sibak rimbunannya, ku petik buah-buah Mallow yang ranum.

Terbersit pertanyaan di benakku,

"Berapa lama aku berjalan di tengah hutan?". 

“Pasti telah berhari-hari ,terlihat dari lahapnya aku memakan buah-buah Mallow itu,” gumamku.

“ Negeri yang sangat indah, di manakah aku?,” kembali aku bergumam.

Ku lahap butir-butir Mallow yang kupetik langsung dari pohonnya, hingga perutklu mengencang, kurebahkan badanku yang lelah sembari menatap langit cerah yang berpelangi meski tidak hujan. 


Angin bertiup sepoi-sepoi, semakin membuat kantukku menyerang membabi buta, tubuhku meminta haknya untuk berhibernasi.

Akupun lelap dalam atmosfir asing yang menenangkan.  


Sungguh, aku tak ingin pulang.

Serang, 3/10/14

KISAH CLOZAPIN BERADU STELOSI

Ilustration By Dark Beauty Magazine


Petangku menjemput
Mengajakku menyelami mimpi raga letih
Padahal sukmaku masih ingin menggerayangi jingga yang perlahan menjadi hitam


-ariisme-
Serang, 2/10/14













Aku, Kau dan Si Kera



Pada suatu pagi yang nista, aku merendahkan diriku di hadapannya, laki-laki berwajah kera. Aku tanggalkan semua atributku, bahkan harga diriku sebagai manusia yang bebas. Aku terpaku, pada kursi kayu yang dingin dan kasar di hadapannya, tertunduk dan gelisah. Dengan ragu aku utarakan keinginanku,

"Aku bermaksud mengambil hakku, wahai kera".
"Aku memohon belaskasihmu," suara parauku memecah kebekuan.  

Ilustrasion by : burrellosubmarinemovies.wordpress.com
Tak ada suara yang menyambutku, hanya hening dan tangan yang berayun dari wadah abu kemudian naik kearah bibir hitamnya. Asap mengepul dari mulutnya yang menyesapi lintingan tembakau dan cengkeh, ku rasakan energinya melalui kepulan asap yang melayang-layang membentuk seperti awan, energi yang sangat besar dan bergolak bak lahar panas yang menyeruak berdesakkan mencari jalan keluar.

“Tidak ada satu rupiahpun ku berikan untukmu, bekerjalah lebih giat lagi, maka aku akan pertimbangkan hak mu”,

“Lagipula kamulah si pembawa petaka, dan tidak sedikitpun aku sudi memberimu kebebasan, meski seujung kuku”, ujarnya dengan lantang.

Suaranya menggema di ruangan yang hanya ada aku dan dia. Dan lagi-lagi hanya jawaban itu yang menggaung. 

Dadaku sesak, kerongkonganku tercekik, air mataku pun tumpah. Bukan kerena kalah, tetapi karena tersadar bahwa kehadirannku bak koreng yang menganga. 
  
Kutinggalkan ruangan pengap dan dingin itu, dan menangis sejadinya, aku khilaf. Kuhempaskan kepalan tanganku pada sebuah pintu hitam yang kaku, aku membabi buta. 

Aku kalah, monster itu menguasaiku lebih dulu.  

“Kamulah si pembawa petaka, dan tidak sedikitpun aku sudi memberimu kebebasan, meski seujung kuku”, suara itu kembali menggema dalam benakku. 

*********

Aku menghabiskan waktuku disana, di balik meja bar yang berdebu, raknya sudah hampir kosong, botol-botol itu telah menjadi transparan, hanya bersisa kerak di dasarnya. Ku gosok setiap sudut dan pinggiran meja itu hingga mengilat, semata-mata mengalihkan pikiranku dari Sang Pianis.

Ya, beberapa pekan ini Sang Pianisku menghilang, dan aku, tetap bertahan menjadi Si sumbang. Aku rela melakukan apapun, untuk mengalihkan pikiranku dari bayangan pianisku. 

Kuisi  gelas-gelas kosong mereka dengan anggur, hingga mereka tergopoh dan mengeluarkan kembali makanan dan minuman yang ditelannya pagi tadi. Berharap dapat kubunuh sepiku. 

Bagiku waktu berjalan sangat lamban. Entah hanya aku yang merasakannya, ataukah manusia-manusia berwajah hewan itu pun. Berat rasanya hari-hari panjang yang kujalani tanpanya. 

Sesekali aku menyentuh anak-anak piano hitam putih itu, dimana ia selalu membelainya dengan pijatan selembut sayap kupu-kupu. Ku biarkan rambutuku tergerai, menutupi selaksa mataku. Setidaknya, jika mereka menatapku, maka riuh menggaduh yang memekik dan menggema di seisi ruangan tidak akan melukai sanubariku begitu dalam. Ku biarkan sosok fatamorgana itu bermain-main di otakku.

Seiring dengan menghilangnya pianisku, di sini, di tempat ini, mereka berpesta pora. Setiap sudut ruangan beruntaikan pita warna-warni pelangi, dan bunga peony. Sungguh pemandangan yang membuat mata nyaman.

“Mari kita bersulang untuk kebahagiaan yang fantastik ini, makan dan minumlah sesuka kalian”, ujar laki-laki berwajah kera, disusul dengan pekikan puja-puji yang dilontarkan para budaknya, menyambut undangan si wajah kera.

“Umur panjang buatmu wahai setengah kera”, ujar manusia berwajah kadal seraya mengangkat tinggi-tinggi gelas anggur yang dipegangnya. 


"Arrrrrkkkkgghhhh", tiba-tiba saja si wajah kera menggeram lantang,

"Aku lah kera sejati, tidak ada kata separuh untukku, aku sejati”, ujarnya dengan lantang, seraya berdiri dengan dada busung. Kaki kirinya diletakan di atas meja perjamuan, dan kaki kanannya tetap kokoh menopang badannya dibawah meja. Kemudian dengan wajah bengisnya, ia menghardik si wajah kadal.


“Aku sejati, aku sejati, aku sejati dasar kau kadal penjilat”, lalu ia tertawa terbahak-bahak hingga buah jakunnya turun naik dan bergetar. 

Si wajah kadal gemetar tak terkira, segera saja ia hengkang dari perjamuan itu, dan memilih bersembunyi di dalam sarangnya.

Sontak saja, ruangan menjadi senyap, senyap seperti ketika aku berada di ruangan dingin dan pengap Si Kera. Semua terdiam dan bergidik menyaksikan adegan yang baru saja terjadi di depan mata mereka.

Aku melanjutkan memoles gelas-gelas anggur. Berusaha untuk tidak menghiraukan kejadian itu. 

"Aaahh, seandainya Sang Pianisku ada bersamaku saat ini, aku pasti akan lebih mudah melakukan pekerjaan memuakkan ini," aku membatin.

Anganku melayang-layang, bergerilya menghampiri imaji hangat wangi rempah yang mampu mengalahkan hangatnya matahari pagi.

Siang itu, aku berpikir untuk kembali mengemis.

Mengemis hak yang seharusnya menjadi miliku.

Yang tersimpan di laci laki-laki berwajah kera.



-ariisme-
Serang, 28/9/14

WAJAH BINATANG



Seperti sebuah nada, akulah Sisumbang, memekakkan telinga penikmat harmoni. Entah berapa banyak nada-nada sumbangku telah merasuki indera pendengaran mereka. Ratusan,atau bahkan ribuan kali, 
entahlah seingatku pekerjaan ini telah aku jalani sejak lahir.



Lihatlah laki-laki tua berwajah kera disana, setiap hari dia duduk di kursi itu. Aku tidak tahu apa istimewanya meja di sudut yang berjedendela lebar itu. Wajahnya selalu sama, menatap lurus gelas-gelas anggur yang berserakan membasahi taplak sutranya. Tanpa ekspresi, tanpa sedikitpun bergeming ketika lalat lalat hijau mendarat di atas batang hidungnya.



Di seberang mejaku, wanita tua berwajah domba tidak henti-hentinya memamahbiak. Tidak ada seorangpun tau apa yang dikunyahnya hingga berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan. Dan tentu saja aku tidak sanggup membayangkan wujud makanan yang telah dikunyahnya itu. Seperti lelaki berwajah kera, wanita berwajah domba itu pun tanpa ekspresi, menatap tajam mesin tik rongsok di hadapannya. Laki-laki muda berwajah tikus, wanita muda berwajah gajah, remaja-remaja tanggung berwajah ayam, kuda, kerbau dan badak, semua sama. Tidak bergerak sedikitpun dan tanpa ekspresi.



Illustration by charlotte-caron
Tidak ada suara manusia bercakap-cakap di ruangan ini, hanya denting piano dan nada sumbangku yang samar dan serak karena letih dan muak. Sang pianis,,, aaahhh dia sangat gagah, laki-laki sejati berwajah tampan yang setia mengiringi nada-nada sumbangku. Tak segan-segan dia membawakan aku secangkir kopi pahit setiap kali kami merasa jengah dan mencuri waktu untuk bersantai. Aku merasa nyaman menghabiskan bercangkir-cangkir kopi pahit bersamanya meski hanya sesaat, meskipun hari yang kami habiskan bersama sangat panjang.



Kehadirannya membawa hangat seperti wangi rempah. Aku menyukai segala gerak geriknya, sosoknya yang seperti pangeran dalam dongeng putri raja, dengan senyum yang mampu membuat matahari bersinar lebih lama, dan bulan memancarkan cahayanya hingga tenggelam ke dasar lautan.



Sungguh sebuah kesempurnaan. Kesempurnaan yang seharusnya membawa bahagia. Namun tidak untuknya. Kedua tangannya terikat pada rantai bergerigi dan kedua kakinya tertaut pada seonggok bola besi yang tidak dapat digerakan oleh manusia biasa. 

Dan mereka,
mereka telah memotong lidah Sang Pianis.


Pianisku,



Setiap hari, kami melantunkan nada-nada sumbang di tengah manusia-manusia berwajah binatang. 

Tanpa ekspresi, hanya nada sumbang.




Serang, 15/09/14

DIA

Illustration abstract nude by aja


Dia tidak mengeluh, ketika orang-orang menilai dirinya sakit jiwa.
"Ora urus aku, toh merekapun sama denganku, mereka tidak menyadari, bahwa jiwa merekapun sakit. 

Mungkin karena memakai seragam yang sama dengan si tikus." Ujarnya.

Dia tidak menangis ketika dia dilahirkan dan tak menyusu ibu. Oleh karena itulah dia merasa berhutang nyawa pada kaleng-kaleng susu olahan pabrik.
Lihat saja, kaleng-kaleng susu mengkilat dan bersih itu tertata rapih pada dinding kamarnya

Dia tidak histeris, ketika dunia viral menyetubuhi ksatrianya.
"Mungkin sosok wanita idamannya hanya didapat dari gadgetnya yang bersekutu dengan media sosial,"
"seperti vending machine yang ada di Eropa," gumamnya.

Dia tidak berontak, ketika tangan-tangan renta itu menggerayangi puting susunya yang baru saja tumbuh.
Dia tidak berani, karena si renta harus dan wajib dihormati.
Yang terpaksa ia maafkan, pada detik-detik ia mati.

Dia juga tidak menjerit, ketika kepala penis yang kelimis itu mendarat di bibirnya. Kepala penis yang menyebarkan aroma bau busuk bak sumur nanah di dasar neraka jahanam.
Dia masih sangat muda dengan segala kepolosannya, saat itu.

Dia tidak bergeming, ketika bapaknya menggandeng istri muda haram jaddahnya ke peraduan,
Yang setahuku, hanya bapak dan ibuku saja yang diperbolehkan menikmati peraduannya.
 
Bapaknya bilang, pernikahan hanya judul saja, sebagai simbol kesakralan, hanya sebatas bukti pada selembar kertas. Sisanya, bergantung pada kesucian hati masing-masing manusia.

Lalu,
Kemudian,
Bagaimana Dia?
Bagaimana Aku ?
bagaimana Kita ?
Bagaimana Kami ?

-ariisme-
Serang, 30/9/14