TAHU MENGAPA?


Adakah yang lebih sulit dari menjaga hati pada sukma yang luka? 
Aku yakin, bahkan pujanggapun akan terantukantuk hingga tak berdaya.
Apakah dia, sang ulama atau abuya?
Aku rasapun tidak.
Apakah hati dan sukma dua hal yang berbeda?
Ah, tak terjangkau oleh logika
Tahu mengapa?
Entahlah, keduanya seringkali melakukan hal bodoh yang tak sama.


-ariisme-
Serang, 30/11/15

AKU TIDAK MAIN MAIN


Tapi Tuan,
Aku tidak main-main menyambut kasih yang katamu tulus dari hati.
Aku juga tidak main-main memberikan separuh aku.
Aku tidak main-main menyerahkan percayaku.
Aku tidak main-main dengan ucapanku.
Aku tidak main-main dengan bara di hatimu.
Aku tidak main-main dengan godam dan kemudian menghantammu.
Aku tidak main-main dengan kelaminku.

Tapi Tuan,
Kamu hanya main-main denganku.


-ariisme-
Serang,15/12/15

CANTIK



Dipolesnya lagi wajahnya yang tidak cantik itu dengan bedak, entah apa tujuannya, yang pasti dia hanya ingin terlihat sama cantiknya dengan gadis-gadis lain. Sebelah matanya memicing, menimbang alis agar sejajar dan serupa dengan alis lainnya. Kemudian dipejamkan mata kirinya, jemarinya menari melukis garis di atas garis matanya. Tidak, itu belum selesai, masih banyak bagian-bagian wajahnya yang belum terlihat sempurna, belum cukup cantik secantik gadis-gadis itu.
Dia memulai kembali dengan memoles bagian tulang hidung, hidungnya memang tidak mancung, oleh karena itu, dia mati-matian membuat shading di hidungnya, agar terlihat lebih proporsional, sesuai selera pasar, yaitu hidung bangir nan mungil. Bukan hidung pesek dengan lubang yang menganga seperti goa. Seulas garis berwarna coklat tua ia poles di kiri dan kanan tulang hidungnya, kemudian digosoknya dengan spons, hingga garis menyatu dengan warna kulitnya. kemudian, memoles highlight di tengan tulang hidung hingga ke pangkalnya, lalu menggosok-gosok dengan lembut memakai kuas.
Didekatkannya wajahnya ke cermin, miring ke kiri miring ke kanan, mendongak dan menunduk. "Ah, masih banyak yang harus dipoles lagi," dia membatin. Kali ini dia meraba-raba tulang pipinya yang tirus dan mencuat karena kurus. Sembari memoleskan blush on, dia memonyong-monyongkan bibirnya hingga tulang pipinya semakin mencuat. Kemudian kembali menatap cermin sembari senyum-senyum. Diliriknya poto-poto tutoarial yang memamerkan para gadis cantik dengan balutan makeup, kemudian menatap cermin, kemudian melirik poto-poto itu lagi, kemudian menatap cermin lagi. Entah apa lagi yang kurang.
Kali ini dia mengambil pulas bibir berwarna merah muda, dengan hati-hati dan lembut, dia memulas bibir hitamnya, perlahan bibir hitam itu kini berubah warna. Dikecup-kecupkannya bibir atas dengan bibir bawah, entah tujuannya apa, tetapi yang aku tahu, semua wanita melakukan ini ketika memulas bibir. Kembali dia menatap cermin, dimonyong-monyongkannya bibir yang telah berubah warna itu, kemudian senyum-senyum dan mengangguk.
"Langkah terakhir," ujarnya seraya membuka botol sebesar ballpoint yang ujungnya terdapat sikat berwarna hitam. Kemudian dipicing-picingkannya matanya, dan menyikat bulu matanya dengan ballpoint itu, satu kali dua kali tiga kali empat kali. Dengan perlahan, dia membuka matanya, dan mengulang proses ini pada mata lainnya.
"Sayang, aku siap," serunya sembari menghampiri laki-laki pujaannya. Namun Langkahnya mendadak berhenti dan terkesiap ketika sang pujaan tengah bermesraan dengan wanita cantik setengah telanjang di monitor komputernya.

-ariisme-
Serang, 4/10/2015

Dinding




Mega menggeser jarumjarum waktu.
Kalbuku terpaku, pada detik yang enggan menggulung jarak dan menarik ulur kisahku kisahmu.

Ah, aku malu pada dinding.

-ariisme-
Serang, 25/11/15











. . . . .




Aku meyakini setiap deretan kata yang menjadikanya sebuah kisah adalah gemerincing hati yang hanya teraba oleh rasa. Ibarat angin yang mampu mengumpulkan awan hingga tercipta air langit.

-ariisme-
Serang, 16/11/15

PERIHAL PETANG YANG MEMAKSA DATANG


Seandainya Ia bisa tetap tinggal, selaksaku mungkin tak akan terasa begitu kerontang.
Riuh yang tetiba hilang, mungkin tak akan begitu terasa senggang.
Tuan, kutinggalkan jejakjejak yang tak akan lekang.
Sekiranya engkau dapat menyimpannya agar tak usang.

-ariisme-
Serang, 18/11/15

OBROLAN AKU DAN FARABI BEE




Barusan ada tangis yang diikuti oleh langit.
Langit begitu sembab hingga hujan turun deras meluap.

Tangis bersahabat dengan hujan, keduanya berpelukan, saling berbagi hangat. Ketika tangis reda, hujanpun kembali bersembunyi di balik awan.
Hujan berkata, "ketika tangis kembali mendera, dan aku tak jua ada, sesungguhnya awan menyeka air matamu agar dapat kembali kuturunkan hujan".

-aku dan bee-
Serang - Balikpapan, 17/11/15 10.30 PM