.........
Akan tiba masanya manusia mulai merasa pantas berperan menjadi juru bicara Tuhan
Story Of A Soul
Akan tiba masanya manusia mulai merasa pantas berperan menjadi juru bicara Tuhan
Biarlah aku tak lagi hadir di dalam puisimu
Setidaknya aku pernah menjadi inspirasimu
Begini saja,
Kubekali beberapa bungkus kenangan di laci mejamu
Siapa tau, nanti kau perlu
Setuju?
Nirwana, 1/11/16
Tangkai tangkai cinta yang kukirimkan setiap hari ternyata tak cukup untuk melipat jarak.
Jancuk!
Kenapa harus tentang cinta sih
Nirwana, 1/11/16
Itu kampak miliknya
Kampak lama yang telah tanggal giginya
Gagangnya legam dan lapuk
Meski demikian, Ia tak berniat menggantinya dengan yang baru
Karena kampak lamanya telah banyak sekali melumat kayu kayu pengepul asap dapurnya
Menghangatkan malam malam dinginnya
Bahkan menghasilkan ukiran ukiran bersejarah di pendoponya
Sekali waktu, Ia sempat menatap kampak baru yang masih kokoh dan tajam
Namun hanya manatap, seolah menatap kampaknya yang lama
Seolah ingin mengayunkannya menghujam kayu kayu di pelatarannya
Tapi Ia hanya menatap
Dengan segala derita dilumatnya
-ariisme-
Nirwana 1/11/16
Aku tersimpan rapat. Di dalam lemari, di sudut-sudut laci terkunci, di balik pilar baja, bahkan di dalam benaknya. Namun hal itu tak menghalangiku untuk melihat dunia, ya, aku muncul tanpa Ia menyadarinya. Ia berpikir aku terpasung lemah tanpa daya di dalam ruang sempit dan gelap.
Tidak! Ia salah, sebuah kesalahan telak dan kemenangan mutlak bagiku tentunya.
Seperti siklus kehidupan, aku butuh serapan energi. Dan bagiku, itu sangat mudah kudapati, karena aku bersamanya, di dalam Ia.
Apa yang kuserap?
Semangatnya, kebahagiaannya, mimpi-mimpi indahnya, energi positifnya bahkan hidupnya.
Aku bukanlah sesuatu, bukan pula seseorang. Aku adalah Ia, kesadarannya yang kusandera.
Ariisme
Nirwana 14916
Rindu ini serupa dingin yang basah di bawah terik yang menyubit raga
-ariisme-
Nirwana, 1/7/16