Di sekelilingku, semua bergerak cepat, sangat cepat. Aku seolah terpaku tanpa dapat berpacu beriringan dengan mereka. Aku bahkan enggan untuk beranjak. Seolah aku diselimuti oleh ribuan bahkan jutaan bujuk rayu mesra nan lembut yang mengikatku agar aku tetap tak berkutik. Ragaku, bahkan nalarku.
Sungguh seperti terjerat dalam lilitan jaring laba-laba raksasa. Bahkan memalingkan wajahkupun aku tak kuasa, dan entah mengapa, aku menyukai sensasi itu, sensasi aku yang terpedaya, sensasi aku yang terkalahkan namun sekaligus membuatku merasa menang karena aku mengabulkan segala pinta sang pemilik jutaan bujuk rayu.
Entahlah, aku juga menyukai segala ide-ide yang dilontarkannya kepadaku. Yang ia katakan bahwa itu akan membawaku ke kedamaian kekal. Dimana segalanya akan selalu menjadi seperti yang kuinginkan. Menjadi aku, seutuhnya. Tanpa suara-suara di telinga atau di kepala. Hanya aku, hanya aku.
Iapun menceritakan kisah-kisah bahagia. Tentang tak adanya rasa bersalah, rasa sesal, amarah atau benci bahkan rasa sakit. Ia bilang, di sana kau akan menjadi seputih awan, bahagia seceria belia, bahkan menjadi seusia dunia. Tak akan ada cela atau noda.
Ya, aku tergiur dengan bujuk rayunya. Aku jatuh cinta pada semua ide-idenya. Aku menginginkannya, sangat sangat menginginkannya. Semua terasa begitu dekat, begitu nyata dan lagi-lagi, ya, aku terpedaya dan menikmatinya.
-ariisme-
Serang, 29/1/16
Seperti terpecuti bertubi-tubi tanpa henti, pedihnya membabibuta dan lukapun begitu terasa panas hingga mengoyak sukma.
Bukan,
Bukan sukmaku, tapi sukmanya, dan ini merajam kalbuku hingga lebur menjadi abu.
Aku tak berdaya, terpasung rantai waktu yang tidak dapat kuputar kembali pada malam laknat yang telah memancung kepolosannya.
Tuhan, manusia macam apa aku ini.
Aku lalai,
Aku lengah,
Aku abai,
Dan kini,
Aku hanya bisa memeluk tubuhku sendiri yang bergetar hebat dalam rasa sesal tanpa batas.
Atas noda.
-ariisme-
Serang, 16/5/15
Pagi ini,sekelebat kenangan masa kecil terbentang pada ruang ingatan. Disana, disebuah bangunan kantor yang halaman depannya ditanami bunga kertas dan di sebelah kirinya bungabterompet berwarna kuning. Disinilah aku dan sahabat-sahabat masa kecilku bermain, bergulat diantar rerumputan lebat, berlarian dan tertawa lepas. Kami masih kanak-kanak, tanpa beban. Aku ingat sepeda mini itu, dengan gagah ia mengendarainya, dan membonceng kami satu persatu, bergantian.
Prima, ia kakak sepupuku, aku dan dia adalah yang tertua diantara anak-anak lain saat itu. Ferdi, Maya, Nia, Dina, Dini, Dede dan Pipit yang masih balita. Aaaaaahhh, kenangan itu meraja lela, mengganti berita pagiku, di sini, bersama secangkir kopi dan asap roko.
Saat-saat yang tak kan pernah tergantikan dengan apapun. Aku ingat, aku merinding ketika kami memasuki bangunan kantor empat lantai itu. Kami menapaki satu persatu anak tangga hingga ke atap. Dibagian atap ada berbagai macam perlengkapan penghitung tekanan angin, ada yang selali berputar seperti baling-baling, ada yang menyerupai menara, ada yang berbentuk seperti payung dan yang sangat kami tunggu adalah balon merah jambu berukuran besar. Ya, balon ini ternyata digunakan untuk mengetahui tekanan angin. Balon itu akan diisi gas, lalu dilepaskan dan dibiarkan terbang bersama angin. Setiap kali balon itu terbang, kami pasti akan dengan khidmat memandaninya, kami penasaran kemana ia pergi.
Serang 1988, seandainya aku bisa kembali ke masa itu, aku pasti katakan kepadanya, aku mengagguminya, sosok yang ceria, pengendara sepeda mini, yang selalu mengenakan celemek di dadanya.
-ariisme-
Serang, 11/10/14
Seketika saja aku melihat jasad mimpiku tenggelam
Di dasar sungai yang dihujani mata air
Pada hari yang masih sangat muda dan langit sebiru laut
Meninggalkan raga betinaku
-ariisme-
Serang, 6/1/15
Monster-monster di dalam benakku sepertinya melunak, jinak dan bersahabat. Bagaimana tidak, aku seringkali dibiarkan bahagia menyesapi mentari yang baru saja lahir, hingga mentari menua dan mengganti awan merah jambu yang menggantung hilang berganti hitam. Bukan tanpa syarat, mereka tetap saja mengikatku pada sebuah tiang pancang, dengan rantai menjuntai yang bisa mereka tarik ulur sesukanya. Sesekali mereka pasti saling berbisik sembari memperhatikan gerak-gerikku, ada yang tertawa terbahak, ada yang mencibir, ada yang memandangku iba, ada pula yang menatapku penuh amarah.
Tak kuhiraukan mereka, aku menikmati semilir angin yang membuat tiap helai rambutku menjauh dari wajahku, harum lavender, udara hangat, yang mengingatkan aku pada suatu ketika, dimana aku menjadi sangat bebas dalam arti sesungguhnya. Menjalani hidup atas keinginan dan perintah dari diriku sendiri, menangis karena patah hati, bahagia karena cinta, tertawa bersama sahabat, bahkan terluka karena dikhianati.
Tidak ada monster-monster, hanya aku.
Aku berlari melawan angin, berputar, berguling, berjingkat dan menari, kurengkuh harum lavender, kupeluk hangatnya udara, kunikmati hariku, hingga nanti sang monster-monster itu menarik rantai pemancangku, namun sebelum mereka melakukannya, aku bebas, aku adalah aku, aku adalah milikku.
-ariisme-
Serang, 18/3/15
Benakku tumpah ruah, berhamburan hingga menenggelamkan lautan.
Namun tercekat lekat, di perbatasan dunia dan nirwana.
Yang kupandang hanya seulas wajah dengan bibir yang merenggang manis.
Tak ada aksara.
Hanya netra yang mengisyaratkan cinta membara.
Seandainya aku bisa mengirimkan surat ke surga, aku akan menuliskan banyak sekali kisah tentang Aiana.
-ariisme-
Serang, 30/5/15