KISAH CLOZAPIN BERADU STELOSI

Ilustration By Dark Beauty Magazine


Petangku menjemput
Mengajakku menyelami mimpi raga letih
Padahal sukmaku masih ingin menggerayangi jingga yang perlahan menjadi hitam


-ariisme-
Serang, 2/10/14













Aku, Kau dan Si Kera



Pada suatu pagi yang nista, aku merendahkan diriku di hadapannya, laki-laki berwajah kera. Aku tanggalkan semua atributku, bahkan harga diriku sebagai manusia yang bebas. Aku terpaku, pada kursi kayu yang dingin dan kasar di hadapannya, tertunduk dan gelisah. Dengan ragu aku utarakan keinginanku,

"Aku bermaksud mengambil hakku, wahai kera".
"Aku memohon belaskasihmu," suara parauku memecah kebekuan.  

Ilustrasion by : burrellosubmarinemovies.wordpress.com
Tak ada suara yang menyambutku, hanya hening dan tangan yang berayun dari wadah abu kemudian naik kearah bibir hitamnya. Asap mengepul dari mulutnya yang menyesapi lintingan tembakau dan cengkeh, ku rasakan energinya melalui kepulan asap yang melayang-layang membentuk seperti awan, energi yang sangat besar dan bergolak bak lahar panas yang menyeruak berdesakkan mencari jalan keluar.

“Tidak ada satu rupiahpun ku berikan untukmu, bekerjalah lebih giat lagi, maka aku akan pertimbangkan hak mu”,

“Lagipula kamulah si pembawa petaka, dan tidak sedikitpun aku sudi memberimu kebebasan, meski seujung kuku”, ujarnya dengan lantang.

Suaranya menggema di ruangan yang hanya ada aku dan dia. Dan lagi-lagi hanya jawaban itu yang menggaung. 

Dadaku sesak, kerongkonganku tercekik, air mataku pun tumpah. Bukan kerena kalah, tetapi karena tersadar bahwa kehadirannku bak koreng yang menganga. 
  
Kutinggalkan ruangan pengap dan dingin itu, dan menangis sejadinya, aku khilaf. Kuhempaskan kepalan tanganku pada sebuah pintu hitam yang kaku, aku membabi buta. 

Aku kalah, monster itu menguasaiku lebih dulu.  

“Kamulah si pembawa petaka, dan tidak sedikitpun aku sudi memberimu kebebasan, meski seujung kuku”, suara itu kembali menggema dalam benakku. 

*********

Aku menghabiskan waktuku disana, di balik meja bar yang berdebu, raknya sudah hampir kosong, botol-botol itu telah menjadi transparan, hanya bersisa kerak di dasarnya. Ku gosok setiap sudut dan pinggiran meja itu hingga mengilat, semata-mata mengalihkan pikiranku dari Sang Pianis.

Ya, beberapa pekan ini Sang Pianisku menghilang, dan aku, tetap bertahan menjadi Si sumbang. Aku rela melakukan apapun, untuk mengalihkan pikiranku dari bayangan pianisku. 

Kuisi  gelas-gelas kosong mereka dengan anggur, hingga mereka tergopoh dan mengeluarkan kembali makanan dan minuman yang ditelannya pagi tadi. Berharap dapat kubunuh sepiku. 

Bagiku waktu berjalan sangat lamban. Entah hanya aku yang merasakannya, ataukah manusia-manusia berwajah hewan itu pun. Berat rasanya hari-hari panjang yang kujalani tanpanya. 

Sesekali aku menyentuh anak-anak piano hitam putih itu, dimana ia selalu membelainya dengan pijatan selembut sayap kupu-kupu. Ku biarkan rambutuku tergerai, menutupi selaksa mataku. Setidaknya, jika mereka menatapku, maka riuh menggaduh yang memekik dan menggema di seisi ruangan tidak akan melukai sanubariku begitu dalam. Ku biarkan sosok fatamorgana itu bermain-main di otakku.

Seiring dengan menghilangnya pianisku, di sini, di tempat ini, mereka berpesta pora. Setiap sudut ruangan beruntaikan pita warna-warni pelangi, dan bunga peony. Sungguh pemandangan yang membuat mata nyaman.

“Mari kita bersulang untuk kebahagiaan yang fantastik ini, makan dan minumlah sesuka kalian”, ujar laki-laki berwajah kera, disusul dengan pekikan puja-puji yang dilontarkan para budaknya, menyambut undangan si wajah kera.

“Umur panjang buatmu wahai setengah kera”, ujar manusia berwajah kadal seraya mengangkat tinggi-tinggi gelas anggur yang dipegangnya. 


"Arrrrrkkkkgghhhh", tiba-tiba saja si wajah kera menggeram lantang,

"Aku lah kera sejati, tidak ada kata separuh untukku, aku sejati”, ujarnya dengan lantang, seraya berdiri dengan dada busung. Kaki kirinya diletakan di atas meja perjamuan, dan kaki kanannya tetap kokoh menopang badannya dibawah meja. Kemudian dengan wajah bengisnya, ia menghardik si wajah kadal.


“Aku sejati, aku sejati, aku sejati dasar kau kadal penjilat”, lalu ia tertawa terbahak-bahak hingga buah jakunnya turun naik dan bergetar. 

Si wajah kadal gemetar tak terkira, segera saja ia hengkang dari perjamuan itu, dan memilih bersembunyi di dalam sarangnya.

Sontak saja, ruangan menjadi senyap, senyap seperti ketika aku berada di ruangan dingin dan pengap Si Kera. Semua terdiam dan bergidik menyaksikan adegan yang baru saja terjadi di depan mata mereka.

Aku melanjutkan memoles gelas-gelas anggur. Berusaha untuk tidak menghiraukan kejadian itu. 

"Aaahh, seandainya Sang Pianisku ada bersamaku saat ini, aku pasti akan lebih mudah melakukan pekerjaan memuakkan ini," aku membatin.

Anganku melayang-layang, bergerilya menghampiri imaji hangat wangi rempah yang mampu mengalahkan hangatnya matahari pagi.

Siang itu, aku berpikir untuk kembali mengemis.

Mengemis hak yang seharusnya menjadi miliku.

Yang tersimpan di laci laki-laki berwajah kera.



-ariisme-
Serang, 28/9/14

WAJAH BINATANG



Seperti sebuah nada, akulah Sisumbang, memekakkan telinga penikmat harmoni. Entah berapa banyak nada-nada sumbangku telah merasuki indera pendengaran mereka. Ratusan,atau bahkan ribuan kali, 
entahlah seingatku pekerjaan ini telah aku jalani sejak lahir.



Lihatlah laki-laki tua berwajah kera disana, setiap hari dia duduk di kursi itu. Aku tidak tahu apa istimewanya meja di sudut yang berjedendela lebar itu. Wajahnya selalu sama, menatap lurus gelas-gelas anggur yang berserakan membasahi taplak sutranya. Tanpa ekspresi, tanpa sedikitpun bergeming ketika lalat lalat hijau mendarat di atas batang hidungnya.



Di seberang mejaku, wanita tua berwajah domba tidak henti-hentinya memamahbiak. Tidak ada seorangpun tau apa yang dikunyahnya hingga berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan. Dan tentu saja aku tidak sanggup membayangkan wujud makanan yang telah dikunyahnya itu. Seperti lelaki berwajah kera, wanita berwajah domba itu pun tanpa ekspresi, menatap tajam mesin tik rongsok di hadapannya. Laki-laki muda berwajah tikus, wanita muda berwajah gajah, remaja-remaja tanggung berwajah ayam, kuda, kerbau dan badak, semua sama. Tidak bergerak sedikitpun dan tanpa ekspresi.



Illustration by charlotte-caron
Tidak ada suara manusia bercakap-cakap di ruangan ini, hanya denting piano dan nada sumbangku yang samar dan serak karena letih dan muak. Sang pianis,,, aaahhh dia sangat gagah, laki-laki sejati berwajah tampan yang setia mengiringi nada-nada sumbangku. Tak segan-segan dia membawakan aku secangkir kopi pahit setiap kali kami merasa jengah dan mencuri waktu untuk bersantai. Aku merasa nyaman menghabiskan bercangkir-cangkir kopi pahit bersamanya meski hanya sesaat, meskipun hari yang kami habiskan bersama sangat panjang.



Kehadirannya membawa hangat seperti wangi rempah. Aku menyukai segala gerak geriknya, sosoknya yang seperti pangeran dalam dongeng putri raja, dengan senyum yang mampu membuat matahari bersinar lebih lama, dan bulan memancarkan cahayanya hingga tenggelam ke dasar lautan.



Sungguh sebuah kesempurnaan. Kesempurnaan yang seharusnya membawa bahagia. Namun tidak untuknya. Kedua tangannya terikat pada rantai bergerigi dan kedua kakinya tertaut pada seonggok bola besi yang tidak dapat digerakan oleh manusia biasa. 

Dan mereka,
mereka telah memotong lidah Sang Pianis.


Pianisku,



Setiap hari, kami melantunkan nada-nada sumbang di tengah manusia-manusia berwajah binatang. 

Tanpa ekspresi, hanya nada sumbang.




Serang, 15/09/14

DIA

Illustration abstract nude by aja


Dia tidak mengeluh, ketika orang-orang menilai dirinya sakit jiwa.
"Ora urus aku, toh merekapun sama denganku, mereka tidak menyadari, bahwa jiwa merekapun sakit. 

Mungkin karena memakai seragam yang sama dengan si tikus." Ujarnya.

Dia tidak menangis ketika dia dilahirkan dan tak menyusu ibu. Oleh karena itulah dia merasa berhutang nyawa pada kaleng-kaleng susu olahan pabrik.
Lihat saja, kaleng-kaleng susu mengkilat dan bersih itu tertata rapih pada dinding kamarnya

Dia tidak histeris, ketika dunia viral menyetubuhi ksatrianya.
"Mungkin sosok wanita idamannya hanya didapat dari gadgetnya yang bersekutu dengan media sosial,"
"seperti vending machine yang ada di Eropa," gumamnya.

Dia tidak berontak, ketika tangan-tangan renta itu menggerayangi puting susunya yang baru saja tumbuh.
Dia tidak berani, karena si renta harus dan wajib dihormati.
Yang terpaksa ia maafkan, pada detik-detik ia mati.

Dia juga tidak menjerit, ketika kepala penis yang kelimis itu mendarat di bibirnya. Kepala penis yang menyebarkan aroma bau busuk bak sumur nanah di dasar neraka jahanam.
Dia masih sangat muda dengan segala kepolosannya, saat itu.

Dia tidak bergeming, ketika bapaknya menggandeng istri muda haram jaddahnya ke peraduan,
Yang setahuku, hanya bapak dan ibuku saja yang diperbolehkan menikmati peraduannya.
 
Bapaknya bilang, pernikahan hanya judul saja, sebagai simbol kesakralan, hanya sebatas bukti pada selembar kertas. Sisanya, bergantung pada kesucian hati masing-masing manusia.

Lalu,
Kemudian,
Bagaimana Dia?
Bagaimana Aku ?
bagaimana Kita ?
Bagaimana Kami ?

-ariisme-
Serang, 30/9/14

BIBI PETUNIA





Bi,
Aku mencari-cari sosokmu pada secangkir kopi pahit, di cangkir yang tak lagi menjejak bekas bibirmu.

Pagiku seperti malam, hingga tubuh hanya ingin meregang diatas pembaringan.

Separuh aku bersamamu, kusimpan diatas bantal, tempatmu melabuhkan mimpi, kukirimkan melalui angin.

Simpan aku ya, bi.

-ariisme
Serang, 22/9/14

PADA BILIK JIWA

 




Aku menanti diriku dilahirkan. Dengan resah, aku menunggu di bangku yang penuh sesak itu. Sesekali aku memainkan gadgetku, tidak serius, hanya membunuh waktu.

Manusia lalu-lalang, bercengkrama, menangis, gelisah, seolah-olah mewakili segenap rasaku. Kulayangkan ingatanku pada sepotong roti yang pagi tadi kukunyah, rasanya yang manis gurih tiba-tiba mengecap tenggorokan. Aku ingat, saat itu aku bergelayut manja dipelukan pangeranku yang harum kayu dan cedar.

Aku terkesiap, ketika sesosok renta membuyarkan ingatanku. Tubuhnya berbalut kebaya lusuh dan tidak harum kayu atau cedar. Dengan gemetar dan mata nanar, ia memilah barisan-barisan bangku kayu yang penuh sesak. Kuserahkan singgasanaku kepada sang renta, "Baiklah, akan kunikmati resahku dengan bersandar pada dinding, dan gadgetku," gumamku.

Pada dinding itu, aku terpaku, menantikan kelahiran diriku. Gadgetku tidak lagi dapat mengalihkan sejuta rasa. Ah, seandainya pemilik harum kayu dan cedar itu berdiri bersamaku, aku pasti akan bergelayut dalam pelukannya, bukan pada dinding dingin dan rata ini.

 
-ariisme-

Bilik Jiwa
Serang, 23/9/14

DIALOG JIWA

 

Disiang bolong itu, badai menghempas tubuhku, hingga aku terpental bermil-mil jauhnya. Ajaibnya, hempasan itu seolah-olah membebaskan jiwaku dari induk semangnya. Tubuh itu, yang teramat sangat ringkih dan lapuk. Jiwaku berayun, berjingkrak, menggeliat menyesapi hempasan demi hempasan.

Hening, gelap, hangat.
Jiwaku di atas awan.
Namun tubuh ringkih dan lapuk itu menggapai-gapai memohon,

"jangan pergi, wahai jiwa,"

"kaulah yang menggerakkan lengan yang kerontang, kaulah yang membuat 

kaki ini melangkah, kaulah yang meberiku buah karya, kaulah yang 

menjadikan hidup"


Kukerlingkan sekejap mataku, memandangi seonggok tubuh yang terkulai.
Aku merasa jijik, sungguh tubuh yang tak layak untuk untuk kutinggali.


"Lihatlah aku, akulah jiwa, aku sangat indah, aku begitu suci."

"Hey, Sang Maha, apakah aku begitu hina, hingga Engkau tak sudi memberiku semang yang layak?"

"Apakah aku berdosa hingga Engkau tega memberiku semang yang rapuh?"

Kupandangi tubuh peot itu. Semakin lama semakin ringkih dan pucat. Dua bola mata yang hampir mencuat itu manyiratkan tangis yang tercekat dan
menyayat. Bibirnya, yang kering dan retak itu bergerak-gerak lemah, dengan samar ia melirih,


"Wahai jiwa, aku memang rapuh, ringkih dan lapuk. Hanya jika engkau pergi"

"Wahai jiwa, engkaulah jiwaku, engkaulah indahku, sucimu mensucikan aku"

"Wahai jiwa, yang tanpa cela. Sungguh Sang Maha menciptakanmu agar 

engkau membuatku layak"

"Wahai jiwa, hanya Sang Maha yang menimbang dosa"


Dan aku, jiwa yang sombong ini
Hanyut bersama rintihan tubuh ringkih dan lapuk
Aku pulang


-ariisme-
Avalon, 17/9/14